SPPG Dihentikan Sementara, REL MBG Soroti Nasib Pekerja Dapur

Ketua Umum Relawan Masyarakat Bersatu Gotong Royong (REL MBG) Roy Marjuk. Bingkaikota.com/Sumarna.

BINGKAIKOTA.COM – Ketua Umum Relawan Masyarakat Bersatu Gotong Royong (REL MBG) Roy Marjuk menyampaikan keprihatinannya atas penghentian sementara operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Diketahui, BGN menghentikan sementara distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah pada tahun ajaran 2026. Kebijakan ini disebut mampu menghemat anggaran hingga lebih dari Rp3 triliun.

Penghentian sementara program tersebut diatur dalam Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2026 tentang penyesuaian operasional SPPG pada periode hari libur.

Roy menegaskan, bahwapihaknya mendukung langkah Pemerintah untuk melakukan pembenahan tata kelola SPPG. Namun penghentian sementara operasional tersebut berdampak langsung terhadap para relawan yang selama ini menjadi ujung tombak pelaksanaan MBG.

Baca juga:  Diiringi Kesenian Budaya, Bacaleg Partai Gerindra Kota Tangerang Daftarkan Diri Ke KPU

Menurutnya, relawan memiliki peran penting dalam memastikan program berjalan efektif dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.sebab itu, kondisi para relawan yang terdampak perlu mendapat perhatian serius.

“Ketika operasional dapur SPPG dihentikan sementara dan para relawan diliburkan, tentu muncul pertanyaan mengenai keberlangsungan hidup mereka. Banyak relawan yang menggantungkan penghasilannya dari aktivitas pekerjaannya di dapur SPPG. Selama masa diliburkannya mereka tetap harus memenuhi kebutuhan keluarganya dan berbagai kewajiban lainnya,” ujar Roy, Senin, 22 Juni 2026.

Ia berharap BGN dan pemerintah dapat menyiapkan langkah antisipatif dagi para relawan yang terdampak. Menurut, Roy keberhasilan MBG selama ini tidak terlepas dari kontribusi relawan yang bekerja dengan semangat pengabdian dan gotong royong.

Baca juga:  MBG Dinilai Kurang Tepat Sasaran, Saetoji: Harus Sesuai Dengan Kebutuhan yang Ada

Selain persoalan ekonomi, Roy juga mengingatkan potensi berkurangnya tenaga relawan berpengalaman apabila penghentian operasional berlangsung terlalu lama.

“Apabila para relawan terlalu lama tidak memiliki kepastian untuk bekerja, tentu mereka akan mencari sumber penghidupan lain. Ketika operasional dapur kembali berjalan, maka tantangan yang muncul adalah berkurangnya relawan yang sudah memahami standar kerja, keamanan pangan,kebersihan, dan tata kelola dapur,” tegasnya.

Menurut Roy, proses merekrut dan melatih relawan baru membutuhkan waktu serta sumber daya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, relawan yang telah memiliki pengalaman dinilai sebagai aset penting yang perlu dipertahankan.

“REL MBG pun mendorong pemerintah agar menghadirkan kebijakan yang dapat membantu para relawan selama masa penghentian operasional,” ujarnya.

Baca juga:  Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Lingkungan BGN

Roy menegaskan, bahwa MBG merupakan program setrategis yang membutuhkan dukungan seluruh elemen, termasuk para relawan yang selama ini terlibat langsung dalam pelaksanaannya.

“Program MBG ini membawa harapan besar bagi masa depan generasi bangsa. Karena itu, keberlangsungan program ini harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap para relawan yang telah berkontribusi menyukseskannya,” tandasnya.

Pewarta: Sumarna l Editor: AS04