BINGKAIKOTA.COM – Jika melewati Lapangan Banteng di Jakarta, kalian akan melihat sebuah monumen raksasa yang sangat gagah, Patung Pembebasan Irian Barat.
Sosok pria berotot yang sedang meneriakan kemerdekaan sambil memutus rantai di tangannya, itu bukanlah sekedar imajinasi seniman.
Patung itu diukir berdasarkan perawakan dan kisah nyata seorang pahlawan besar tanah Papua.
Namanya adalah Johannes Abraham Dimara. Lahir di Biak Utara, ia adalah sosok perwira militer yang perannya sangat krusial. Namun, namanya jarang terdengar di buku pelajaran sejarah.
Ketika Belanda bersikeras menahan Papua agar tidak lepas dari gengaman mereka pasca kemerdekaan, Dimara adalah salah satu ujung tombak yang berani mempertaruhakan nayawanya untuk masuk ke garis musuk.
Tahun 1954, Dimara memimpin pasuka griliya menyusup lewat jalur laut ke Telu Etna, Papua.
Misinya berat, yaitu mengibarkan Merah Putih dan membakar semangat rakyat Papua untuk bertintergasi dengan Indonesia.
Namun, pergerakan mereka tercium. Setelah pertempuran sengit, Dimara ditangkap mikiter Belanda, disiksa, dan dibuang ke penjara isolasi Boven Digoel selama bertahun-tahun.
Penderitaan penjara tidak mematahkan semangatnya. Usai dibebaskan, Presiden Soekarno langsung membawa Dimara terbang ke Markas PBB di New York (1962) sebagai delegasi resmi Indonesia.
Kebadirian fisik Dimara sebagai putra asli Papua di meja perundingan Internasional menjadi pukulan telak bagi diplomasi Belanda, membuktikan rakyat Papua ingin merdeka bersama Indonesia.
Dalam sebuah pawai akbar di Jakarta, Seokarno melihat Dimara memakai rantai yang terputus di lengannya sebagai simbol pembebasan.
Merasa terkesima oleh momen emosional itu, Bung Karno langsung meminta Henk Ngantung untuk membuat seketsa patungnya, yang kemudian diwujudkan menjadi monumen raksasa oleh pematung legendaris Edhi Sunarno.
Meski akhirnya dianugrahi Pahlawan Nasional dan dimakamkan secara militer, masa tua J. A Dimara justru dihabiskan dengan kesederhanaan dan kesunyian.
Beliau bahkan kesulitan untuk biaya pengobatan sebelum wafat pada tahun 2000.
Patung raksasanya memang terus berdiri menantang langit ibu kota, tapi warisan persatuan yang ditinggalkannya jauh lebih mahal dari sekedar monumen perunggu.
Pewarta: Ade Saputra l Editor: Lukman


