Cinta Yang Hilang Kembali Pulang

Tangerang, Bingkaikota, com – kisah dua hati yang pernah terpisah akhirnya menemukan jalannya kembali. Kamis (12/12). Jaro Mumu dan Dewi Sartika, yang dulu hanya menyisakan kenangan samar di antara kesibukan hidup, kini kembali duduk berdampingan seolah waktu tak pernah memisahkan. Pertemuan itu sederhana, namun menyisakan getar yang tak bisa disembunyikan.

Jaro Mumu tampak lebih matang, wajahnya memancarkan ketenangan yang datang dari perjalanan panjang kehidupan. Senyumnya pelan namun tulus saat menatap Dewi sartika, seakan mengingatkan pada hari-hari ketika cinta masih sebatas kisah yang mereka simpan dalam diam. Ada harapan baru yang muncul dari cara ia menatap.

Dewi Sartika pun tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya. Balutan jilbab biru yang dikenakannya memancarkan kelembutan, sementara senyumnya memperlihatkan kehangatan yang dulu membuat Jaro Mumu jatuh hati. Meski waktu telah membawa mereka pada perjalanan masing-masing, pertemuan ini membuatnya sadar: beberapa rasa memang tak pernah benar-benar hilang.

Suasana sekitar yang ramai justru menjadi latar yang pas bagi dua hati yang kembali berjumpa. Bendera-bendera dan aktivitas orang-orang di sekitar seolah memudar ketika Jaro dan Dewi asyik dalam percakapan kecil mereka. Di tengah hiruk-pikuk itu, keduanya menemukan ketenangan yang sudah lama dirindukan.

Tak ada rencana, tak ada janji sebelumnya—semua terjadi begitu saja. Namun justru itulah yang membuat pertemuan ini terasa istimewa. Seolah semesta sedang bekerja, mempertemukan dua orang yang memang seharusnya bertemu kembali setelah sekian lama terpisah.

Bagi Jaro Mumu, ini bukan sekadar nostalgia. Ini seperti menemukan kembali bagian dirinya yang pernah hilang. Sementara bagi Dewi Sartika, kehadiran Jaro adalah kepastian bahwa beberapa perasaan memang diciptakan untuk kembali tumbuh pada waktu yang tepat.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang cinta yang pernah hilang, tetapi cinta yang menemukan jalannya pulang. Di Pinang, Tangerang, Jaro Mumu dan Dewi Sartika membuktikan bahwa waktu tak selalu menghapus, kadang justru mempertemukan kembali apa yang seharusnya tetap ada. Cerita ini hanya fiktif (prh)