BINGKAIKOTA.COM – Sebuah bangunan perpustakaan bercat dominan biru, kuning dan merah berdiri tegak di kawasan Taman Ecopark, Neglasari, Kota Tangerang menuai sorotan.
Bangunan yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut kini justru membisu. Pintunya terkunci rapat, sementara lapisan debu tebal menyelimuti kaca.
Sebagai bentuk protes sekaligus dorongan bagi giat literasi warga, belasan mahasiswa dari DPK GMNI STISNU Nusantara menggelar lapak buku gratis di atas kain terpal, tak jauh dari halaman bangunan perpustakaan tersebut.
Lapak yang diberi nama “Taman Baca Marhaenis” itu menjajakan beragam bahan bacaan, mulai dari pemikiran kebangsaan Sukarno, karya kritis Tan Malaka, novel Pramoedya Ananta Toer, hingga literatur ekonomi-politik.
Tak hanya buku kelas berat, terpal tersebut juga menyediakan buku cerita bergambar, krayon, dan buku mewarnai untuk anak-anak.
Ketua DPK GMNI STISNU Nusantara, Muhamad Ridwan, menyatakan bahwa aksi ini merupakan kritik terbuka terhadap Pemerintah Kota Tangerang yang dinilai gagal mengoptimalkan aset daerah.
“Kami miris melihat perpustakaan di taman ini mangkrak dan tidak beroperasi. Padahal, pembangunan fasilitas publik menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit. Jika dibiarkan mati begini, sama saja anggaran daerah dibuang sia-sia,” kata Ridwan, Rabu, 23 Juli 2026.
Ridwan menepis narasi klasik birokrasi yang kerap menyalahkan rendahnya minat baca masyarakat. Menurut dia, persoalan utama justru terletak pada lemahnya tatakelola, konsep dan komitmen perawatan pascapembangunan fisik.
Gerakan dari mahasiswa di Taman Ecopark ini menyintesiskan persoalan mendasar dalam pembangunan publik di daerah: ketersediaan infrastruktur tanpa dibarengi dengan konsep pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.
“Kalau membuat fasilitas publik hanya untuk mengejar laporan proyek lalu dibiarkan terbengkalai, untuk apa? Jika pada akhirnya mahasiswa yang harus turun tangan melayani warga, lantas apa fungsi kehadiran dinas terkait?” ujar Ridwan menegaskan.
Kehadiran taman baca swadaya di atas terpal tersebut justru mendapat respons positif dari pengunjung taman. Warga yang melintas tampak antusias mendekat dan memanfaatkan koleksi buku yang disediakan.
Seorang warga Karawaci, Rendra mengaku terkejut melihat kehadiran lapak buku tersebut. Selama ini, ia mengira bangunan perpustakaan taman yang terkunci itu hanyalah gudang penyimpanan alat kebersihan.
“Harusnya Pemkot malu. Masa [pelayanan] kalah gerak dengan mahasiswa yang cuma bermodal terpal?” kata Rendra.
Antusiasme senada ditunjukkan seorang anak warga sekitar, Raka bersama teman-temannya, ia memanfaatkan fasilitas mewarnai gratis yang disediakan di lokasi.
“Senang ada buku gambar begini, jadi bisa mewarnai bareng,” tandas Raka polos.
Pewarta: Bumi Sunyoto l Editor: AS04


