Ragam  

Kisah Tragis! Cinta, Penghianatan dan Kematian Nyai Dasima di Batavia

Foto Nyai Dasima. Bingkaikota.com/Ade Saputra/Dok Net.

BINGKAIKOTA.COM – Pada awal abad ke-19, di sebuah desa kecil bernama Kuripan di wilayah Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seorang gadis muda bernama Dasima.

Dasima dikenal sebagai perempuan berdarah campuran Indo (Belanda-Pribumi) yang memilik paras cantik jelita, kulit kuning langsat, serta mata yang teduh. Kehidupannya di desa berjalan biasa saja, hingga nasib memawanya ke Batavia.

Di masa itu, status perempuan pribumi berbeda di lapisan sosial bawah dalam sistem Kolonilal Hindia Belanda. Banyak gadis muda dinamakan Nyai, sebutan bagi perempuan pribumi yang menjadi istri pria Eropa tanpa setatus resmi.

Setatus tersebut membuat mereka berada dalam ruang abu-abu, dijauhi kaum pribumi karena dianggap murtad, tapi tetap dipandang rendah oleh kalangan orang Eropa.

Kehidupan Mewah di Pejambon

Dasima, di usia remajanya, dibawa ke Batavia dan menjadi Nyai seorang pria Inggris kaya bernama Edward William, atau kerap disebut Tuan W. Edward jatuh hati pada kecantikan dan kelembutan Dasima, hingga memberikan kehidupan mewah di rumah megah di kawasan pejambon, daera elit yang kala itu dihuni pejabat dan sodagar Eropa.

Dari hubungan itu lahirlah putri kecil yang diberi nama Nanci. Dasima sempat merasakan kebahagiaan, tapi di balik kemewahan itu hatinya terbelah. Masyarakat pribumi menganggapnya penghianat, sementara orang Eropa menepatkannya sebagai warga kelas dua. Di tengah gemerlap Batavia, Dasima hidup dalam kesepian, terkurung status yang mengekangnya.

Baca juga:  5 Resep Cah Kangkung Ala Rumahan, Enak dan Praktis

Pertemuan Dengan Samiun: Awal Petaka

Kesunyian hati Dasima perlahan terisi ketika ia bertemu dengan seorang pemuda pribumi di kawasan Kwitang bernama Samiun. Pemuda itu berpura-pura jatuh cinta, membujuk Dasima dengan janji-janji manis, menyatakan bahwa hanya dia yang dapat menerima Dasima apa adanya. Dasima yang kesepian dan mendambakan cinta sejati akhirnya terjebak dalam bujuk rayu.

Tanpa ia tahu, di balik senyum itu, Samiun menyimpan niat busuk. Bersama seorang dukun bernama Mak Buyung dan seorang preman kejam bernama Bang Puasa, meraka merencanakan kejahatan keji, membunuh Dasima demi menguasai hartanya.

Penghianatan Berdarah di Cempaka Putih

Pada suatu malam di tahun 1830-an, di kawasan Cempaka Putih, tragedi itu terjadi. Dasima, yang kala itu diajak bertemu dengan Samiun, justru disergap. Bang Puasa yang telah dipasang jimat Mak Buyung, mengesekusi Dasima dengan keji. Tubuh perempuan malang itu kemudian dibunag ke Kali Cempaka Putih, berharap jejaknya tak pernah ditemukan.

Baca juga:  LBH Jakarta Gelar Live In Kalabahu pada Jemaat Ahmadiyah Gondrong Kota Tangerang

Namun, tadir berkata lain, beberapa hari kemudian jasad Dasima tersangkut di tepi kali tak jauh dari kediaman Tuan W. Kejadian itu menguncang Batavia. Warga gempar, dan berita kematian Nyai cantik menyebar cepat.

Kontroversi dan Simpang Siur Sejarah

Seiring waktu, kisah Dasima menjadi legenda urban di Batavia. Meski catatan sejarah mencatatnya hidup diawal abad ke-19, bebedapa pemenilti kemudian mengaitkanya dengan tragedi pembunuhan Fientje de Feniks, seorang Indo-Belanda yang dibunung oleh kliennya pada 1912.

Nama Nyai Dasima pertama diabadikan dalam buku “Tjerita Nyai Dasima” karya G. Francis tahun 1896 yang disebut-sebut sebagai kritik sosial terhadapa kolonialisme, ketidak adilan kelas, dan nasib perempuan pribumi.

Ada pula yang menyebut karakter Taun W diambil dari sosok nyata William Menzils, sodagar Inggris yang makamnya ditemukan di Landhuis Koeripan (rumah kongsi ciseeng), Bogor, oleh sejarawan Pater Adolf Heuken S.J.

Nyai Dasima bukan sekedar tokoh dalam cerita rakyat. Ia adalah representasi nyata tidak keadilan sosial dimasa penjajahan. Kisahnya mengingatkan kita bahwa di balik catatan yang ditulis para penguasa, ada suara-suara peremuan yang terabaikan, terpinggirkan dan dibungkam.

Baca juga:  6 Manfaat Kunyit untuk Kesehatan Tubuh

Kini kisah Nyai Dasima tetap hidup, bukan hanya sebagai kisah cerita biasa, tapi sebagai simbol perlawanan perempuan terhadap sistem yang menindas.

Landhuis Koeripan atau Rumah Kongsi Ciseeng

Berdasarkan buku Robinhood Betawi karya Alwi Shahab, lokasi tempat tinggl Nyai Dasima tidak jauh dari bangunan Rumah Kongsi di Ciseeng, yakni sekita dua kilometer. Pada awalnya, bangunan tersebut diduga dimiliki oleh orang berkebangsaan Belanda. Namun dalam bab “Menyusuri Jejak Nyai Kuripan”, dijelaskan bahwa pemiliknya orang berkebangsaan Inggris.

Hal ini diperkuat dengan keberadaan batu nisan di dalam kawasan tersebut yang memuat nama William Menzils (1860). Pada masa itu kepemilikannya oleh tuan tanah Inggris, bangunan tersebut dikenal dengan sebutan Rumah Kuripan.

Pewarta: Ade Saputra l Editor: Lukman