BINGKAIKOTA.COM – Dalam sejarah Indonesia, keberanian menyuarakan kebenaran dan menentang ketidakadilan terkadang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Mislanya, Marsinah ditemukan tewas setelah memperjuangkan hak buruh. Wiji Thukul menghilang tanpa jejak, sementara Munir diracun dalam penerbangan menuju Belanda.
Mereka berasal dari zaman, latar belakang, dan perjuangan yang berbeda. Ada yang dihukum mati, dibunuh, dipenjara, hingga dihilangkan secara paksa.
Sebagian kasus telah terungkap, tetapi sebagian lainnya masih menyisakan misteri dan tuntutan keadilan. Kekuasaan boleh berganti, zaman boleh berubah. Namun, sejarah mereka yang pernah dibungkam tidak seharusnya ikut menghilang.
Inilah 10 kisah keberanian yang berakhir tragis dan patut terus diingat. Merawat Ingatan, Menolak Lupa.
Munir Said Thalib (1965-2004)
Beranin Mengungkap Pelangaran HAM, Diracun dalam Penerbangan
Munir Said Thalib merupakan aktivis hak asasi manusia yang dikenal berani mengungkap kasus penculikan aktivis, kekerasan aparat, dan berbagai dugaan pelanggaran HAM.
Pada 7 September 2004, ia meninggal dalam penerbnagan menuju Belanda setelah diracun menggunakan arsenik. Sejumlah orang telah menjalani proses hukum terkait pembunuhannya, tetapi pertanyaan tentang siapa yang merencanakan kejahatan tersebut masih belum terjawab secra tuntas.
Arif Rahman Hakim (1943-1966)
Turun ke Jalan Menuntut Perubahan, Tewas Ditembak Saat Demonstrasi
Arif Rahman Hakim merupakan Mahasiswa Fakulitas Kedoteran Universitas Indonesia yang terlibat dalam gelombang demonstrasi menentang pemerintahan Presiden Soekarno pada 1966.
Ketika mahasiswa menyuarakan tuntutan perubahan politik dan ekonomi, ketegangan dengan aparat keamanan semakin meninggkat.
Pada 24 Februari 1966, Arif tewas tertembak dalam bentrokan demonstrasi di sekitar Istana Merdeka. Kemadianya kemudian menjadi salah satu simbol perjuangan mahasiswa Angkatan 1966.
Wiji Tukul (1963-Hilang 1998)
Puisinya Menentang Penindasan, Kemudian Ia Hilang Tampa Jejak
Wiji Tukul merupakan penyari dan aktivis yang menjadikan puisi sebagai alat perlawanan terhadap ketidak adilan pada masa orde baru. Karya-karyanya menyuarakan penderitaan rakyat kecil dan keberanian melawan penondasan.
Aktivitas polituknya membuat ia menjadi sasaran pengejaran aparat. Menjelang runtuhnya pemerintahan Suharto pada 1998. Wiji Tukul menghilang tanpa jejak. Hingga kini, keberadaan dan nasib akhirnya belum diketahui secara pasti.
Marsinah (1969-1993)
Memperjuangkan Hak Buruh, Ditemukan Tewas dengan Tanda Kekerasan
Marsinah hanyalah seorang pekerja pabrik di Siduarjo yang berani memperjuangkan hak dan kenaikan upah rekan-rekanya. Ketika aksi buruh berlangsung pada 8 Mei 1993, ia katif menyuarakan tuntutan para pekerja.
Namun, Marsinah kemudian menghilang dan ditemukan tewas pada 8 Mei 1993 dengan tanda-tanda kekerasan berat. Kasus pembunuhanya menjadi simbol perjuangan buruh Indonesia sekaligus menyisakan pertanyaan besar mengenai saipa yang sesunguhnya bertanggung jawab.
Fuad Muhammad Syafruddin (1964-1996)
Berani Menulis Dugaan Korupsi Pejabat, Dianiaya Hingga Meninggal
Fuad Muhammad Syafruddin, yang dikenal sebagai Udin, merupakan wartawan harian Bernas di Yogyakarta yang kerap memberitakan persoalan politik lokal, penyalahgunaan kekuasaan, dan dugaan korupsi.
Pada Agustus 1996, ia diserang orang tidak dikenal di rumahnya di Bantul. Udin meninggal tiga hari setelah penganiayaan tersebut. Meskipun muncul dugaan bahwa pembunuhnya berkaitan dengan pekerjaan jurnalistiknya, motif serta pelaku sebenarnya belum berhasil diungkap dengan tuntas.
Petrus Bima Anugrah (Hilang 1998)
Berani Menentang Orde Baru, Lemyap Tanpa Pernah Ditemukan
Petrus Bima Anugrah merupakan aktivis mahasiswa yang terlibat dalam gerakan prodemokrasi menjelang akhir pemerintahan Soeharto. Ia aktif menyuarakan perubahan politik ketika tindakan reprensif terhadap aktivis semakin meningkat.
Pada 1998, Petrus Bima menghilang secara misterius dan keberadaanya tidak pernah diketahui lagi. Kasusnya menjadi salah satu bagian dari rangkaian penghilangan paksa aktivis yang masih menuntut penyelesaian hingga sekarang.
Suyat (Hilang 1998)
Aktif Melawan Kekuasan Orde Baru, Kemudian Tak Pernah Kembali
Suyat merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang terlibat dalam perjuangan menentang pemerintahan Orde Baru.
Keika aparat keamanan meningkatkan tekanan terhadap jaringan terhadap jaringan prodemokrasi, sejumlah orang mulai mengalami penangkapn dan penghilangan.
Pada Februari 1998, Suyat menghilang di Solo. Sejak saat itu, keluarganya tidak pernah mendapatkan kepastian mengenai keberadaan maupun nasib akhirnya.
Elang Mulia Lesmana (1978-1998)
Menuntut Reformasi, Tewas Ditembak di Lingkungan Kampus
Elang Mulia Lesmana merupakan mahasiswa Universitas Trisakti yang ikut dalam gerakan reformasi dan berkahirnya pemerintahan Soeharto.
Pada 12 Mei 1998, demonstrasi mahasiwa di Jakarat berujung tragedi ketika aparat melepaskan tembakan.
Elang menjadi salah satu mahasiswa Trisakti yang tewas dalam peristiwa tersebut. Kematian mereka memicu kemarahan publik dan menjadi salah satu titik penting runtuhnya Orde Baru.
Herman Hedrawan (Hilang 1998)
Berjuang Menuntut Demokrasi, Menghilang Menjelang Jatuhnya Soeharto
Herman Hendrawan merupakan aktivis mahasiswa yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhahadap pemerintah Orde Baru. Ia aktif memperjuangkan demokrasi ketika tekanan terhadap kelompok oposisi semakin meningkat.
Pada Maret 1998, di tegah maraknya penculikan aktivis prodemokrasi, Herman menghilang dan tak pernah kembali. Namanya kemudian tercatat sebagai salah satu korban penghilangan paksa yang hingga kini belum ditemukan.
Salim Kancil (1969-2015)
Menolak Tambang Pasir Ilegal, Tewas Dikeroyok Secara Brutal
Salim Kancil merupakan petani dan aktivis lingkungan asal Lumajang, Jaw Timur, yang bernai menentang aktivitas penambangan pasir yang dianggap merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.
Penolakannya memicu konflik dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam kegiatan pertambangan tersebut.
Pada 26 September 2015, Salim dikeroyok hingga meninggal dunia. Kasus ini menyeret sejumlah pelaku ke pengadilan, termasuk kepala desa stempat yang kemudian dijatuhi hukaman penjara.
Pewarta: Ade Saputra l Editor: Lukman


