Bingkaikota.com – Warga RT 01 RW 02, Kampung Parung Kored, Kelurahan Parung Jaya, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten, mengeluhkan genangan air yang mengepung permukiman mereka dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini diduga terjadi akibat adanya pembatasan lahan dengan tembok serta kegiatan pengurugan tanah oleh pemilik lahan di kawasan tersebut, sehingga aliran pembuangan air warga dan air hujan terhambat.
Menanggapi hal itu, anggota Komisi 1 DPRD Kota Tangerang, Jamaluddin, membantah tudingan bahwa dirinya menutup akses drainase yang menyebabkan banjir di lingkungan warga.
Ia menjelaskan bahwa tidak ada drainase yang ditutup sebagaimana yang dikeluhkan warga Parung Kored tersebut.
Menurutnya, justru selama ini aliran air dari permukiman warga diarahkan ke lahannya yang sebelumnya masih kosong.
“Yang ada itu masyarakat membuang aliran drainase ke lahan saya,, saya sudah siapin drainasennya, kenapa buang di lahan saya,” kata Jamaluddin saat di konfirmasi nelalui sambungan telepon.
Jamaluddin menuturkan, sebelum ia membeli lahan tersebut, area yang kini telah di uruk merupakan tanah kosong yang dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan air karena adanya empang di area tersebut.
Kemudian, pada beberapa bulan lalu, karena kondisi lahan yang rendah, Jamaluddin mengaku telah melakukan pengurugan setinggi sekitar 50 sentimeter menggunakan material puing untuk mencegah genangan.
“Itu lahan saya. Saya mau pake terus saya pndasi. Saya yag beli dari masyarakat, Kalau tidak saya urug, ya tetap banjir karena posisi tanahnya memang rendah sekali. Padahal sudah saya buatkan saluran dari ujung ke ujung,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengaku telah membangun sebagian saluran air secara mandiri dan mengusulkan pembangunan drainase permanen kepada Pemerintah Kota Tangerang.
Usulan tersebut, menurutnya, telah masuk dalam rencana anggaran dan tinggal menunggu realisasi.
“Sudah saya usulkan, kemungkinan pertengahan tahun ini dikerjakan yang sisanya, sebagian udah saya bikin, melalui dana ABT. Dinas terkait juga sudah turun mengecek ke lapangan,” ujarnya.
Terkait aliran air, Jamaluddin menyebutkan bahwa saluran pembuangan diarahkan menuju kawasan Metro Permata sebagai satu-satunya jalur yang tersedia.
“Saya tidak ada niat menghalangi. Justru saya perjuangkan agar ada solusi untuk masyarakat,” tegasnya.
Adapun rencana pemanfaatan lahan tersebut, Jamaluddin mengungkapkan masih bersifat sementara. Ia sempat merencanakan pembangunan fasilitas olahraga, namun hingga kini belum direalisasikan.
“Rencana awal mau dibuat lapangan padel, tapi ada kendala. Saat ini masih kosong dan baru sebatas pondasi batas lahan saya dan batas masyarakat,” katanya.
Sementara itu, warga berharap Pemerintah Kota Tangerang segera turun tangan menangani persoalan drainase di wilayah tersebut agar genangan tidak terus berulang, terutama saat hujan deras mengguyur kawasan Parung Kored.
Diberitakan sebelumnya, Warga Kampung Parung Kored, Kelurahan Parung Jaya, Kecamatan Karang Tengah, kini harus akrab dengan genangan air di lingkugan rumah mereka. Sejak tiga hari terakhir, kawasan RT 02 RW 01 menjadi tempat penampjngab air hujan dengan ketinggian mencapai 50 cm.
Namun, air kali ini bukan sekadar fenomena alam biasa warga menyebutnya sebagai banjir buatan akibat ditutupnya jalan pembuangan air yang biasa digunakan oleh warga selama puluhan tahun.
Kampung yang berada di dataran rendah ini dulunya dikenal sebagai daerah yang bebas banjir. Sistem resapan alami dari empang luas di sekitarnya mampu menampung debit air hujan dengan baik.
Namun, segalanya berubah sejak pemilik lahan melakukan proyek pengurugan lahan di area belakang pemukiman.
Nurhalim, seorang warga setempat, menunjuk ke arah tumpukan pondasi yang memutus aliran air pembuangan penduduk.
Dengan nada getir, ia menjelaskan bahwa jalur air selokan warga telah dikunci mati oleh beton bangunan.
“Banjir ini sebenarnya baru-baru aja, baru beberapa bulan ini semenjak ada pembangunan di belakang, ada pengurugan di belakang. Sebelumnya sama sekali tidak pernah ada banjir. Karena dulu kan pembuangannya jelas ke sana, ada resapan di tengah-tengah, ada empang besar,” kata Nurhalim.
Kini, drainase berukuran 80 sentimeter yang menjadi tumpuan warga telah hilang. Akibatnya, air dari dapur warga maupun air hujan tidak memiliki jalan keluar dan mengepung pemukiman di RW tersebut.
“Jadi jalur air yang tadinya ada, drainase sekitar 80 senti, sekarang tertutup total sama pondasi-pondasi bangunan itu. Jadi air nggak bisa ke mana-mana, ya ngumpulnya di pemukiman warga ini. Ketinggian bervariasi, ada yang di atas 50 senti, ada yang mau 1 meter. Ini saja sudah tiga hari nggak surut-surut airnya,” tambah Nurhalim.
Pewarta: Ade Saputra
Editor: Puji Rahman Hakim




