TANGERANG, BINGKAIKOTA.COM- Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang sedang melaksanakan agenda kaderisasi tingkat pelopor (KTP) yang berlangsung selama 14 hari sejak 17 Mei – 1 Juni 2023 di Jawa Barat. Kegiatan yang diikuti oleh para mahasiswa dari kota dan provinsi yang berbeda tersebut, diselenggarakan dengan sistem pembelajaran materi di ruang kelas, dan juga materi lapangan dengan dibagikan kelompok masing-masing 4 orang untuk menganalisis gejala sosial, ideologi, politik, dan perekonomian masyarakat desa.
Dede Hardian, yang berasal dari cabang GMNI Kota Tangerang, Banten adalah salah satu ketua kelompok yang ditugaskan di desa sagalaherang kidul, kecamatan sagalaherang, kabupaten Subang, Jawa barat. Dede bersama 3 orang kader lainnya yang berasal dari DPC GMNI Malang Jawa Timur, DPC GMNI Kupang NTT, dan DPC GMNI Sibolga Sumatera Utara.
“Kami berada di desa ini (Sagala herang kidul) sejak tanggal 26 Mei 2023, jadi kami berempat dengan kawan-kawan yang berbeda asal kampus dan kota, datang kesini dengan tujuan melakukan penelitian sosial, mudah-mudahan nanti kami juga dapat membantu cari jalan keluar atas permasalahan masyarakat yang kami jumpai di lapangan” kata Dede.
Dede mengatakan, dia sudah 2 hari berada di desa sagalaherang kidul bersama tiga temannya, dengan misi membawa hasil terbaik untuk memberikan solusi kepada masyarakat desa yang terasingkan dan membutuhkan gagasan untuk keluar dari permasalahan.
“Sementara data yang kami kumpulkan belum cukup untuk menarik simpul permasalahan yang kami temui, karena realitas perlu kami nilai secara objektif dari beberapa sumber. Mudah-mudahan dengan sisa waktu yang ada, kami dapat menyelesaikan data yang kami perlukan agar dapat mengklasifikasi data tersebut dengan hipotesa yang berbeda, dan semoga mampu menjawab tantangan masyarakat di desa sagalaherang kidul” tutur pemuda yang biasa disapa bung Dede.
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa desa yang mereka singgahi termasuk desa yang maju, bukan golongan desa tertinggal. Dengan harapan, setelah mereka singgah di desa tersebut nantinya akan ada pemikiran yang ditinggalkan dan menjadi manfaat bagi desa untuk semakin maju dan berkembang.
“Sagalaherang kidul ini termasuk desa yang modern, secara kasat mata dapat dilihat banyak rumah permanen dan kendaraan bermotor, masyarakat desa juga sudah sadar akan hidup berkelompok dengan membentuk dan bergabung dengan organisasi tani. Perdagangan hasil pertanian dan perkebunan cukup baik, juga sistem bagi hasil atas lahan milik orang yang digarap petani juga cukup manusiawi untuk si pekerja lahan. Ditambah terobosan yang dilakukan pihak desa yang masif membentuk BUMDES dengan memanfaatkan SDA dan SDM unggul di desa” ujar Dede.
Selanjutnya kata Dede “Mudah-mudahan, ide dan juga gagasan yang sedang kami rumuskan, nantinya dapat menjadi bagian sejarah atas perkembangan desa. Kami masih dalam tahap penulisan dan pemutakhiran data, nanti akan kami jabarkan terkait hal baik apa yang kami tinggalkan untuk masyarakat desa”(RZ)




