Tangerang, bingkaikota.com-Rangkaian seleksi calon kepala sekolah di Kota Tangerang telah rampung, namun sejumlah peserta menyampaikan kegelisahan terkait proses yang berlangsung.
Beberapa peserta menilai rangkaian tes dan pemberkasan hanya bersifat formalitas, sementara dugaan adanya jalur khusus dan titipan menjadi sorotan.
Seorang peserta yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku dihubungi oknum yang menawarkan bantuan kelulusan secara terstruktur. Oknum itu menyebut adanya “komitmen dana” yang harus disiapkan agar peluang lolos lebih besar.
Menurut peserta ini, nominal yang disebut berkisar antara Rp80 hingga 150 juta.
“Saya ditawari bisa dibantu lolos, asalkan ada komitmen dana,” ujarnya. Menurutnya, tawaran tersebut membuat seluruh proses seleksi terasa tidak objektif.
Peserta lain mengaku mengalami hal serupa. Ia didatangi seorang oknum yang mengaku memiliki pengaruh karena kedekatan dengan Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin. Oknum itu memberi sinyal bahwa peluang melaju ke tahap akhir akan berkurang bila peserta tidak mengikuti mekanisme yang ditawarkan.
“Bahasanya halus, tapi intinya tanpa ikut mekanisme mereka, peluang lanjut sangat kecil,” kata peserta tersebut. Ia menilai bahwa tes kompetensi, wawancara, dan pemberkasan yang dijalani selama ini lebih bersifat formalitas. “Seolah-olah semua itu hanya untuk memenuhi prosedur, tapi hasilnya sudah bisa diprediksi,” ujarnya.
Beberapa peserta juga menekankan pentingnya transparansi, terutama dalam membuka nilai tes. Menurut mereka, ada peserta yang dinyatakan lolos meski kompetensinya diragukan. “Kalau datanya dibuka, masyarakat bisa menilai sendiri. Banyak yang nilainya sebenarnya jeblok,” kata salah satu peserta.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Dr. Ruta Ireng Wicaksono, membantah adanya titipan. Ia memastikan seluruh rangkaian seleksi telah berjalan sesuai prosedur, mulai dari tes kompetensi berbasis komputer (CBT) di SMPN 6 hingga wawancara yang digelar pada Selasa.
“Tes kompetensi dan wawancara sudah selesai. Sekarang tinggal penetapan dan penempatan,” kata Ruta. Ia menjelaskan bahwa dari 135 peserta yang lolos administrasi, tes CBT mengerucutkan jumlah menjadi 112 orang, yang kemudian menjalani wawancara untuk memilih 56 calon kepala sekolah.
Ruta menambahkan bahwa mekanisme seleksi telah disusun berdasarkan standar kompetensi dan regulasi yang berlaku, sehingga tudingan adanya jalur titipan dianggap tidak berdasar.
Meski begitu, peserta yang merasa dirugikan menekankan bahwa transparansi dan pengawasan eksternal sangat dibutuhkan agar proses seleksi lebih kredibel.
Mereka berharap nilai tes dibuka dan mekanisme seleksi dapat diperbaiki di masa mendatang agar publik dan calon peserta dapat menilai secara objektif.(prh)




